Sering Berkomentar Body Shaming, Hati-Hati Kena Pidana!

Body shaming merupakan salah satu bentuk tindakan penghinaan atau pengejekan dengan memberikan komentar fisik dan penampilan tubuh seseorang dalam bentuk apapun. Hati-hati! Kebiasaan body shaming ini sekarang makin merajalela. Terlebih di kalangan netizen. Kalau Anda tak mau kena tindak pidana, hentikan kebiasaan itu sekarang juga!

Apa Itu Body Shaming?

Sebelum Anda tahu kenapa bisa kena ancaman pidana hanya karena hal yang dianggap sepele ini, sebaiknya Anda tahu dulu sebenarnya apa pengertian body shaming itu sendiri. Menurut Oxford Living Dictionaries, body shaming adalah bentuk sederhana dari tindakan mengecek atau mengomentari bentuk dan tubuh seseorang yang dianggap jelek.

Pasal Karet UU ITE Bisa Jerat Pelaku Body Shaming

Pasal yang Mendasari Hukuman Pidana Body Shaming

Kenapa bisa kenap hukuman pidana? Tentu saja karena ada pasal yang melatarbelakanginya. Pasal tersebut adalah Pasal 27 ayat (3) jo. Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Traksaksi Elektronik.

Pasal tersebut sudah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Elektronik. Pemberi komentar ini bisa saja dijerat bilamana si korban merasa terhina dan melakukan aduan. Tindakan ini juga bisa diproses bila si pelaku memenuhi seluruh unsur pidana.

Kriteria lainnya adalah bila si pelaku telah melalui proses peradilan pidana. Pasal tersebut memiliki bunyi ‘Setiap orang dengan sengaja atau tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi eletronik dan/atau dokumen eletronik yang memenuhi muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Artinya, setiap orang yang dengan sengaja atau tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransimiskan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi dan/atau dokumen eletronik yang memiliki muatan penghinaan bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik UU ITE ini. Hukuman yang bisa didapat adalah penjara paling lama 4 tahun dan denda hingga 750 juta.

Body Shaming bisa kena pasal

Apakah Body Shaming Bisa Dikatakan Penghinaan?

Jika Anda bertanya apakah body shaming yang sering dilakukan di media sosial termasuk penghinaan atau tidak, maka untuk mengetahui jawabannya adalah dengan merujuk pada pasal penghinaan ringan menurut Pasal 315 KUHP.

Pasal tersebut memiliki bunyi: ‘Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis yang dilakukan terhadap seseorang, baik di muka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yang dikirimkan dan diterima padanya,

Diancam karena penghinaan ringan dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua munggu atau denda pidana paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.’ Pasal tersebut mengatur tentang penghinaan yang dilakukan di tempat umum yang biasanya berupa makian yang sifatnya menghina.

Penghinaan tersebut bukan hanya dengan cara menuduh atas suatu perbuatan saja, melainkan juga dengan menggunakan perkataan seperti ‘anjing, asu, sundel, bajingan,’ dan masih banyak lagi. Bila penghinaan tersebut dilakukan dengan menggunakan kata-kata seperti ini, maka si pelaku bisa dijerat dengan pasal 315 KUHP yang dikenakan penghinaan ringan.

Selain itu, penghinaan ringan juga bisa dilakukan dengan menggunakan perbuatan. Menurut R. Soesilo, penginaan perbuatan ini bisa berupa perbuatan meludahi di muka, memegang kepala, mendorong atau melepas peci atau ikat kepala, sodokan, dorongan, templengan, atau bentuk fisik lainnya yang tidak seberapa keras.

Namun, agar pengaduan Anda bisa diproses, ada syarat yang harus dipenuhi. Persyaratannya adalah penghinaan atau pengejekan baik secara lisan atau tulisan tersebut harus dilakukan di tempat umum meski si korban yang dihina tidak perlu ada di tempat tersebut. Namun, bilamana tidak terjadi di tempat umum, juga bisa diproses.

Hanya saja, syaratnya lebih ribet. Syarat agar penghinaan yang dilakukan di bukan tempat umum adalah orang yang dihina harus ada di tempat tersebut. Beliau harus melihat atau mendengar sendiri hinaan itu. Bila penghinaan dilakukan dengan tulisan, maka surat tersebut harusnya dialamatkan pada orang yang dihina.

Body Shaming di Medsos Bisa Dijerat UU ITE
Instagram/klinikhukum

Tindakan Apa yang Bisa Dilakukan Korban yang Dihina di Media Sosial?

Bagi korban yang mengalami penghinaan di media sosial dan merasa tersinggung, Anda bisa melaporkannya ke Layanan Aduan Konten Kementrian Komunikasi dan Informasika. Selain itu, upaya penegakan hukum lainnya juga bisa langsung dilaporkan ke penegak hukum setempat.

Prosedurnya adalah pemilik akun yang dilanggar haknya datang langsung membuat laporan ke penyidik POLRI atau unit cybercrime atau penyidik PPNS (Pejabat Pegawai Negeri Sipil) pada Sub Direktorat Penyidikan dan Pendidikan, Kementrian Komunikasi dan Informatika.

Setelah itu, peyidik akan menindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan yang dilakukan dengan proses penyidikan atas Hukum Acara Pdana dan ketentuan dalam UU ITE. Setelah itu, berkas perkara akan dilimpahkan ke penuntuk umum untuk dilakukan penuntutan di pengadilan.

Dengan semua hal ini, lebih bijak untuk pengguna media sosial dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Tidak berkomentar body shaming adalah salah satu jalannya. Kemajuan teknologi harusnya digunakan untuk kebaikan. Bukan malah sebaliknya yang merugikan banyak orang, termasuk diri sendiri.

Facebook Comments